[Image Source: Alexander Mils on Unsplash]

 

Dana menjadi salah satu faktor penting dari kesuksesan sebuah bisnis, tidak terkecuali startup. Seringnya apabila membahas tentang pendanaan, maka investor menjadi variabel yang secara tidak langsung akan mengikuti. Pendanaan dari investor akan sangat membantumu dalam mengembangkan model bisnis. Namun, ternyata investasi yang diberikan oleh investor bisa diidentifikasi menjadi dua jenis yang akan berpengaruh pada kesuksesan bisnismu, diantaranya ada smart money dan dumb money.

 

Smart Money VS Dumb Money
Mengutip dari Clockwork, smart money adalah investasi dari investor yang tidak hanya membantu menambah modal bisnis, namun turut berkontribusi mengembangkan operasi dan strategi suatu bisnis. Dengan begitu, nilai suatu bisnis bisa meningkat melalui evaluasi dan keputusan yang diberikan.

Sedangkan, dumb money adalah investasi yang tidak lebih hanya menambah modal suatu bisnis, tanpa sedikitpun investor terjun langsung membantu mengembangkan bisnis. Kemungkinan besarnya juga, investor tidak memiliki pengetahuan apapun tentang industri bisnis yang ia investasikan. Praktik yang sering terjadi adalah ketika investor hanya membeli saham saat harganya turun dan menjualnya saat harga naik.

 

Mana yang Lebih Baik?
Melihat definisi di atas, beberapa orang mungkin akan memiliki pendapat yang berbeda tentang mana yang lebih baik antara smart money atau dumb money. Sebagian yang merasa percaya diri dengan kemampuannya dalam mengembangkan ide bisnis, dan tidak ingin pihak lain mencampuri bahkan mengubah strategi yang sudah ia siapkan, mungkin akan berpendapat bahwa mendapatkan dumb money sudah cukup. Sedangkan, sebagian dari founders akan beranggapan bahwa smart money lebih baik karena mampu membantu mereka mengembangkan bisnis melalui mentoring dan koneksi yang diberikan oleh investor.

Kenyataannya, baik smart money maupun dumb money sama-sama dibutuhkan oleh suatu perusahaan tergantung situasinya. Bahkan keduanya tidak selalu menguntungkan.

Bagi startup yang terlalu memiliki banyak smart money di masa awal tumbuhnya, akan berdampak buruk pada kebebasan founder dalam menentukan strategi bisnis. Bayangkan ketika terlalu banyak investor yang berusaha menyumbangkan idenya, terkesan memaksamu untuk memilih mana ide terbaik di antara mereka, maka sebagai founder, kamu tidak memiliki otonomi apapun dalam menjalankan bisnismu. Dampak terburuknya adalah kamu bisa kehilangan hak dalam menjalankan bisnis yang kamu ciptakan sendiri.

Jika bisa disimpulkan, sebagai founder, kamu perlu menempatkan dirimu sebagai pihak yang ikut berkontribusi. Meskipun, smart money terlihat menggiurkan karena investor dengan senang hati ikut membantu, namun kamu juga harus bijak menggunakannya.

Selain smart money, dumb money juga tidak selamanya buruk bagi suatu bisnis. Dumb money bisa berdampak positif apabila bisnis yang kamu bangun memang sudah mapan. Dimana kamu memiliki tim yang kompeten, produk sudah tervalidasi, dan target pasar sudah jelas akan tertarik, maka dumb money akan menjadi bonus yang harus kamu ambil. Berbeda halnya ketika kamu dan timmu hanya bermodalkan skill, tidak memiliki model bisnis yang jelas, tidak tahu bagaimana caranya menghasilkan keuntungan, maka smart money jelas yang lebih kamu butuhkan.

 

Berkaca dari definisi dan kondisi di atas, kamu sudah bisa menentukan mana yang lebih baik untuk bisnismu sekarang. Apakah smart money atau dumb money, tergantung pada apa yang kamu butuhkan saat ini. Keduanya tidak selamanya buruk, namun juga tidak selama berdampak bagus, karena sebagai founder kamu perlu melihat bagaimana dampak yang bisa terjadi apabila kamu memutuskan untuk mengambil salah satunya.

 

Written by Rimaya Akhadiyah

Sumber Referensi:

Hawatmeh, F. (n.d.). Smart Money vs. Dumb Money: Why You Need Both. Clockwork. Retrieved April 21, 2021, from www.clockwork.ai/post/smart-money-vs-dumb-money-why-you-need-both